The Beatles tidak Pernah Mati

bitels

KELOMPOK musik ngak-ngik-ngok, demikian presiden pertama negeri ini, Soekarno, menyebut permainan musik grup band asal Liverpool Inggris, The Beatles. Tidak demikian halnya dengan anak-anak remaja, meskipun mendapat larangan keras dari penguasa negara, tetap saja secara sembunyi-sembunyi mereka mendengarkan siaran Radio BBC London untuk sekadar mendengarkan musik rock n’ roll yang saat itu menjadi pujaan seluruh pencinta musik dunia.

“Mereka pemusik jujur, berbicara apa adanya melalui musik. Mereka tidak hanya berbicara cinta, kasih sayang, dan keindahan, tetapi juga apa yang tengah terjadi di masyarakat, dan mewakili peristiwa yang dialami oleh kita.” Demikian komentar Peter Pilbeam, Produser Radio BBC saat pertama mengaudisi penampilan The Beatles untuk pergelaran mingguan “Teenage’s Turn”.

Hal ini juga diamini Presiden Bandung Beatles Community (BBComm), Rachmanto Sudarjat. “The Beatles merupakan grup musik revolusioner, baik dari sisi lirik maupun musiknya. Musik Beatles merupakan inspirator bagi grup musik lain di zamannya maupun grup musik saat ini,” ungkapnya.

Bandung Beatles Community merupakan salah satu komunitas pencinta musik The Beatles berikut para pesonelnya, John Lennon (rhythm), Paul Mc Cartney (bass), George Harrison (lead guitar), dan Ringo Starr (drum). Komunitas ini didirikan 13 Desember 2003 di Bandung dengan Akta Notaris Rin Yulianita, S.H., Nomor 13. Konsepnya sangat sederhana, BBComm dibentuk sebagai kecintaan sekelompok orang terhadap The Beatles yang kemudian ingin menunjukkannya dalam bentuk penghormatan. Untuk memuaskan kecintaan para anggotanya yang haus akan informasi, Rachmanto mendirikan Sekretariat BBComm di Jalan Purba Endah C-36 Bandung. Dibantu Duddy Lukman P.K., yang juga sama-sama penggila The Beatles, Rachmanto juga menerbitkan buku Dari The Quarrymen Hingga The Beatles, Kisah Perjalanan Panjang dan Berliku, serta The Beatles dari BBC Menuju Pentas Dunia (2004).

Memang BBC sebagai pencinta The Beatles bukanlah satu-satunya komunitas yang memproklamasikan sebagai pencinta berat grup musik legendaris asal Liverpool Inggris ini. Hampir di sejumlah kota besar di tanah air, pencinta The Beatles membuat wadah sebagai ajang silaturahmi sesama pencinta atau yang hanya sebagai penikmat musik The Beatles, semisal di Riau ada Riau Beatles Community (RBC), Yogya dengan Beatles Jogja Community (BJC), Jakarta dengan Beatlemania Club dan Jakarta Beatles Community (JBC), serta Moptop komunitas Beatles di Bogor.

Namun, belakangan sejumlah koleksi BBComm milik Rachmanto menjadi literatur dan acuan informasi bagi pencinta musik ataupun grup band The Beatles. “Bahkan sejumlah radio di Kota Bandung maupun luar daerah, bahkan luar Jawa juga banyak yang meminta atau sekadar meng-copy,” ujar Rachmanto.

Sejumlah koleksi pribadi mulai dari kaset, CD, VCD, buku-buku, aksesori (pin, topi selendang) maupun dalam bentuk mainan terus dilengkapi. Selain mencari sendiri, koleksi-koleksi juga didapatkan Rachmanto dengan cara memesan dari teman yang pergi ke luar negeri, menukar atau diberi cuma-cuma.

Benda-benda koleksinya kini masih berceceran di rumah orang tuanya di Jalan Purba Endah. “Namun ke depannya mungkin akan dibangun sekretariat khusus dan benda-benda ini akan ditempatkan di ruang khusus pula,” papar Rachmanto, yang juga bertekad agar BBComm bisa menjadi pusat data dan informasi terlengkap tentang The Beatles di Bandung maupun di Indonesia.

Komunitas grup musik The Beatles merupakan perkumpulan inklusif yang berusaha merangkul komunitas dan kelompok lain. Karena betapa pun bagusnya ide, gagasan, dan pikiran mereka, jika tidak ada dukungan dari berbagai pihak, rasanya akan sulit mewujudkannya.

“Jumlah kami memang sedikit, tapi bukan berarti kami jadi minder dan tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya, kami aktif melakukan kegiatan untuk tetap menjaga nama besar The Beatles. Secara tidak langsung membesarkan nama BBComm juga,” ujar Rachmanto.

Namun demikian, secara rutin setiap minggu, rekan-rekan di BBComm selalu berupaya untuk berkumpul membicarakan strategi untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Berbagai acara dan kegiatan mereka gelar untuk mengenang dan tetap menghidupkan aura The Beatles di era milenium ini.

**

PROGRAM-program The Beatles yang bekerja sama dengan radio-radio di Bandung sudah dilakukan. Bahkan, kini ke luar daerah, termasuk pelosok daerah di Jawa Barat. Kegiatan yang dilakukan antara lain menggelar pameran pernak-pernik The Beatles, membuat buku sejarah dan musik The Beatles, mengadakan acara charity, sampai acara musik “Beatles Night”.

“Beatles Night” yang digelar pertengahan Juni adalah “When I’m Sixty Four History Concert Part I” dalam rangka memperingati ulang tahun ke-64 Paul Mc Cartney. Juga digelar festival lagu-lagu The Beatles pada bulan September dan Desember.

Menutup tahun 2007, sejumlah projek sedang digarap. Dalam waktu dekat, BBComm akan menggelar event tahunan berupa konser lagu-lagu The Beatles, yang kali ini bertajuk “G-Pluck Beatles Band The Magical History Concert” yang waktunya bertepatan dengan wafatnya John Lennon, 8 Desember. Projek sangat besar dan sedang terus dijajaki dengan Pemkot Bandung adalah sister city antara Bandung dan Liverpool. “Saat ini kami juga berusaha mewujudkan mimpi untuk menjadikan Bandung sebagai sister city dari kota kelahiran The Beatles, Liverpool. Hal itu akan lebih mendekatkan hubungan antara Bandung (Indonesia) dan Liverpool (Inggris),” ujar Rachmanto.

Ke depannya dengan jumlah anggota yang terus bertambah bahkan merambah hingga ke pelosok pedesaan, semisal di daerah Ciawi Tasikmalaya, Cisompet Garut, Sumber Cirebon, Purwakarta, dan Cianjur, komunitas pencinta grup musik asal Liverpool ini akan semakin nyata. “Kami benar-benar tidak berkeinginan untuk sekadar berkumpul, tetapi dalam wadah yang profesional kami ingin berbuat sesuatu yang benar-benar dirasakan tidak hanya oleh kami yang ada dikomunitas tetapi juga oleh masyarakat lainnya,” ujar Rachmanto.

Seperti halnya suatu komunitas, BBComm juga mengharapkan adanya induk organisasi yang menaungi komunitas Beatles seluruh Indonesia. “Adalah ucapan Paul Mc Cartney saat kami melakukan pembicaraan interaktif di Radio Global beberapa waktu lalu. Dia (Paul) tidak menyangka bahwa grup bandnya dulu masih banyak pencintanya di sini (tanah air), bahkan dia berharap suatu saat kelak komunitas pencinta Beatles tetap langgeng seperti halnya The Beatles,” ujar Rachmanto.

“Indo Beatlemania Club” yang diaktakan dengan Keputusan No. 5 Tanggal 21 Juli 2004 Akta Notaris Ibu Hennywati Sumaharjana, S.H. Indo-Beatlemania Club yang disingkat dengan IBC bertujuan untuk mewadahi dan menfasilitasi kegiatan peminat, penggemar, serta penggila The Beatles secara nasional. “Namun, hingga kini belum mampu berjalan sesuai harapan pencinta The Beatles,” ujar Agus Sutisna yang di kalangan Beatlesmania biasa disebut dengan sapaan Ocoy.

Menurut Ocoy, IBC yang didirikan berlatar belakang keprihatinan para penggemar, pemerhati, serta pencinta The Beatles, mulai dari yang berpendidikan sekolah dasar hingga orang-orang tua, dengan klub-klub besar maupun kecil yang tersebar di beberapa tempat seperti Bandung, Yogya, Jakarta, dan Bogor. Namun, dalam perjalanannya belum mampu menjadi suatu wadah dengan kegiatan yang riil serta mengumpulkan anggotanya dengan solid, kompak, dan dalam skala nasional.

Komunitas tidak selalu harus terorganisasi dengan baik. Kecintaan terhadap The Beatles tidak menghambat untuk sama-sama memberikan yang terbaik dan menyalurkan rasa cinta tersebut. Sebagaimana diungkapkan John Lennon saat diwawancara Radio Manhattan Amerika Serikat 8 Desember 1980 sebelum ajal menjemput lewat timah panas yang melesak dari senjata Mark Chapman pengidola beratnya. My works will never stop until I’m dead and buried, and I hope it’s still a long, long time….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s