Awal Mula Jatuh Cinta Terhadap KOPI

Saya Rendy Pratama Putra mahasiswa IM TELKOM jurusan Administrasi Bisnis, saya akan berbagi awal mula saya menyukai kopi, entah dari mana datangnya itu secara reflek atau tiba-tiba saya sangat jatuh cinta kepada kopi, keluarga saya tidak ada yang fanatic terhadap kopi kecuali saudara-saudara saya yang lain ada.

Jika banyak orang yang ketergantungan dengan narkoba, ngegele (meski itu negatif) atau pun bir dan rokok, namun bagi saya kopi adalah narkoba itu. Jika dilarang, ngopi satu hari saja rasanya lemas tak bersemangat. Ia adalah belahan jiwa saya.

Belakangan ini, saya sedang digandrungi oleh Kopi berjenis robusta. Warna kopinya hitam pekat, ada rasa pahit di dalamnya, meski dua sendok gula telah dituangkan, namun rasa pahitnya masih berasa. Dan saya suka itu. Oh iya, satu lagi aromanya itu lho, nggak tahu kenapa setiap kali mencium kopi, ide untuk menulis atau inspirasi lain selalu keluar. Meski terkadang bukan karena kopi saja lho. Tapi, aroma Kopi Robusta itu sendiri.

Tapi kenapa hitam kopi ini justru bisa bangkitkan orang untuk berbuat kebajikan. Kopi memang hitam, Tapi dalam hitamnya aku bisa melihat segurat harapan, secercah cahaya untuk lusa yang belum tercipta, ada emosi yang menggelora, dan sejumput keinginan dalam binar hitamnya, ini menjadi salah satu daya tarik saya untuk mencintai kopi. Sungguh kopi ini hitam dan sangat pekat, tapi hitamnya adalah jiwa, adalah inspirasi penggerak hati. Terkadang juga pahit, dan sungguh pahit dirasa, namun hidup telah mentasbilnya untuk manis, maka tersenyumlah ia dengan manisnya segera.

Saya tidak memandang dimana saya harus minum kopi, di warung rokok, di kantin, di cafe, di restoran, di rumah bahkan dipinggiran jalan. Aku pun tidak harus selalu menakar estimasi antara kopi dengan gula, apalagi berkelakukan perfectionist seperti si-Bethoven yang harus ada 60 biji kopi untuk setiap cangkir kopi yang mau dinikmatinya. Asalkan cukup terasa pahit di lidah, maka kopi kembali menjadi teman setia melewati malam-malam panjang.

Mungkin sudah sepatutnyalah, saya dan para penikmat kopi di seantero jagat ini berterima kepada seorang penggembala kambing asal Abessynia yang untuk kali pertama menemukan tumbuhan kopi sewaktu ia menggembalakan ternaknya. Atas jasanyalah, minuman satu ini menjadi minuman bergengsi para aristokrat di Eropa.

Arabika, aku jatuh cinta padanya, warnanya yang hitam pekat namun menimbulkan aroma yang sentimentil, harum dan menyejukkan hati. Robusta, kendati memiliki kafein yang tinggi, namun terkadang aku suka merindukan pahitnya.

Saya sebagai seorang penikmat kopi mungkin harus bersyukur karena dilahirkan dan hidup di abad ini. Bayangkan saja, kalau dilahirkan sebelum jaman Renaissance, mungkin aku tidak akan pernah mencicipi eksotisme kepekatannya. Kecuali kalau saya dilahirkan dari keluarga Aristokrat dan berkarib kerabat dengan Raja Frederick Agung dari Rusia.

Kenapa secangkir kopi bisa dianggap begitu berbahaya? Karena ia begitu digjaya, atas rasanya maka dunia terasa begitu bermakna. Jatuh cinta dengan kopi. Hmmm, kopi nggak pernah ninggalin saya, nggak kayak kamu (lho! Heheee…). Kawan-kawan, kopi hitam adalah segalanyaaaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s