The First Hiking Jayagiri Experience

DSC_0023

Saya Rendy Pratama Putra, seorang pemerhati kota bandung sekaligus pecinta kopi, persib bandung dan band legendaris The Rolling Stones akan sedikit menceritakan pengalaman melakukan Hiking ke Jayagiri yang tersesat ke desa parompong.

2 februari 2013 kemarin, saya dan teman-teman kampus melakukan pendakian ke Jayagiri. ini benar-benar perjalanan yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Menyenangkan nya adalah saya dan teman-teman mempunyai pengalaman baru serta menghirup cuaca pegunungan yang sangat sejuk, sisi menyedihkannya adalah kita tersesat ditengah hutan sekitar 3 jam, dan tidak mencapai tujuan awal ke gunung tangkuban parahu, tapi kita tersesat hingga desa parompong sersan bajuri, gilaaaaa bukan? Perjalanan yang seharusnya ditempuh sekitar 2-3 jam ini detempuh dengan perjalanan seharian hahahaha start di gerbang jayagiri pukul 8 pagi finish di parompong pukul 16.30 WIB hahahah.

Perjalanan di mulai… lets go…

Lembang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia. Kecamatan Lembang berada pada ketinggian antara 1.312 hingga 2.084 meter di atas permukaan laut. Titik tertingginya ada di puncak Gunung Tangkuban Parahu. Sebagai daerah yang terletak di pegunungan, suhu rata-rata berkisar antara 17°-27 °C. hmmhh……sejuk kan….!

Hal pertama yang harus kamu lakukan sesampainya di Lembang adalah; parkir kendaraan di tempat yang aman, lebih baik pake umum sih (angkot) nah setelahnya kita start deh…..jalan kaki, kita mulai menuju jalan ke jayagiri, di area sekitar pasar Lembang, cari jalan Jayagiri….gampang karena jalan ini berada di tengah-tengah kota Lembang, dekat lokasi penjualan buah-buahanan, kalau susah tinggal tanya kiri-kanan pada penduduk Lembang yang sebagian besar bermata pencarian sebagai petani, pedagang, pekerja sektor informal (buruh, pengemudi, dan sebagainya) , dan terkenal ramah-ramah, dijamin kamu bakal ditunjukkan arah ke mana menuju Jayagiri.

gerbang

Sebelum kita tiba di gerbang masuk hutan lindung, dengan harga tiket Rp. 5000,- perorangnya kita mulai masuki area hutan lindung Jayagiri yang sejuk dan lembab…jalan setapak yang menanjak, dan tanaman perdu di kiri kanan jalan membuat pemandangan kita bisa lepas ke bawah dengan bebas, pemandangan lembah serta kota Bandung dari kejauhan nampak dengan jelas , terbayang…indah bukan?

Ayo jalan terus…setelah sekitar 45 menit berjalan kaki, sekarang kita berada di lereng gunung dan mulai memasuki area hutan pinus ; yang merupakan area pengelolaan milik perum Perhutani, tusam atau pinus adalah sebutan bagi sekelompok tumbuhan yang semuanya tergabung dalam marga pinus. Di Indonesia penyebutan tusam atau pinus biasanya ditujukan pada tusam Sumatera (Pinus merkusii Jungh. et deVries).
Di sela pinus, di beberapa area terbuka kusaksikan juga berselang seling pepohonan kopi, yang sedang mulai berbunga serta berbuah, mungkin milik penduduk sekitar atau mungkin bagian dari kepemilikan Perum, entahlah….

Kusaksikan pada bagian batang-batang pinus , sedang dilakukan penderesan, untuk diambil getahnya, getah pinus memang digunakan sebagai bahan baku untuk produksi gondorukem dan juga untuk pembuatan terpentin. Jalanan akan terus mengarah ke atas, di sela sela hutan pinus, jangan berhenti karena tidak lama lagi kita akan tiba di puncaknya, dan kemudian jalanan akan kembali mendatar.

Nahh…benar kan akhirnya kita sampai di puncak hutan pinus , di mana ada warung tepat di tempat mendatar ini, selain rombongan kami, sudah banyak rombongan pejalan kaki lain yang sudah lebih dulu tiba dan sedang duduk-duduk beristirahat, jajanan kopi, kacang2an, aqua atau makanan-makanan kecil lain tersedia, sambil mengeringkan sisa keringat yang mengucur semenjak kita menempuh jalan menanjak tadi.
Matahari sudah tepat di atas kepala sewaktu kami tiba di sini, namun meski bercucuran keringat, udara tetap sejuk segar…Sambil beristirahat menikmati secangkir kopi, Dian, saya , Rian dan Gromy memperhatikan route berikut yang harus kami tempuh….ke arah mana sekarang?

warung

Karena ada 3 jalan cagak…terus terang saya tidak tahu yang mana menuju Tangkuban-Perahu, akhirnya kami tanya pemilik warung ternyata jalan berbatu yang ke kiri menuju Sukawana, oleh sebagian penggiat aktivitas hiking, jalur ini cukup sering dilalui, merupakan hutan pinus yang dikelola Perum Perhutani, sebagian lagi masih tetap area cagar alam, berjalan terus kelak kita akan tiba di area perkebunan teh produktif milik PT Perkebunan nusantara VIII.

Jalur yang ke kanan akan keluar ke Cikole.

Dan jalur yang tengah….itulah yang menuju Tangkuban-Perahu. (yang secara harfiah berarti “Perahu Terbalik”, karena bentuknya serta berdasarkan legenda Jawa Barat Pangeran Sangkuriang, yang menyinggung asal mula gunung api ini).

DSC_0065

Sangat disayangkan bentang hutan di area ini rusak di sana-sini, nampaknya karena banyaknya dilalui kendaraan roda empat dari para pengunjung yang masuk dari arah Cikole; menggunakan berbagai kendaraan off-road mulai dari mobil-mobil jenis 4X4, motor trail, sampai sepeda gunung, bahkan juga ada sisa-sisa track ATV yang nampaknya tidak dibersihkan dan dibenahi kembali setelah selesai dipergunakan. Banyak bekas-bekas lindasan kendaraan yang merusak tanah serta menggilas tanaman, nampaknya area di sini harus lebih dijaga, dirawat serta diperbaiki demi untuk mendapatkan keseimbangan ekosistemnya lagi, dibutuhkan pemahaman serta keterbukaan hati masyarakat juga pihak pengelola tentang pentingnya ko-eksis dan saling mendukung antara satu organisme/mahluk dengan lainnya.

DSC_0068

Okay….perjalanan dilanjutkan, kiri- kanan route kini merupakan hutan yang heterogen, paduan antara perdu bunga liar, rerumputan serta pepohonan, hutan mulai terbuka; karena Cikole memang adalah sentra hortikultura untuk suplai Bandung dan sekitarnya, artinya daerah ini menopang kebutuhan sayur-sayuran serta buah-buahan semusim semisal daun bawang, kentang, tomat, buncis, kol dsb yang menjadi pemandangan yang kini sedang kami lalui, sesekali kami bertemu dengan para petani penggarap, yang sedang merawat tanamannya.

DSC_0074

DSC_0078

Tapi entah bagaimana mulanya, kami tiba-tiba belok ke kiri ke arah gunung burangrang, kita berjalan terus menerus menyusuri hutan-hutan lebat berniat ke gunung tangkuban parahu, perasaan pada saat itu kami merasa benar jalan yang kita lalui ini akan mengantarkan kami ke tempat yang dituju, tapi setelah berjalan hingga 3 jam lebih kok gak nyampe-nyampe, pada saat itu jam menunjukan pukul 13.00 WIB, kabut sudah turun dan kami semua panik akhirnya memutuskan untuk kembali ke pos awal, tapi takdir berkata lain kami tersesat hilang jejak yang tadi kami lalui, setelah 1 jam perjalanan mencari jalan kami menemukan jejak motor trail, kami inisiatif mengikuti jalur tersebut dengan harapan bertemu dengan orang, benar saja setelah jalan menyusuri jalan setapak kami bertemu dengan 2 orang pengendara motor trail merk KTM dan akhirnya kami bertaanya arah pulang ke arah mana, dn dia jawab ikuti saja jalur ini sekitar 4 KM nanti tembusnya di desa parompong, whaaaaaat ? parompong? Kami kaget ternyata kami benar-benar ngawur melakukan perjalanan ini, kaki kami semua sudah lemas pegal-pegal kami hampir putus asa, setelah berjalan dengan semangat yang gigih, akhirnya kami menemukan sebuah peternakan sapi yang tidak jauh dari sana ada rumah penduduk dan warung, alhamdulilaaaah ya allah akhirnya kami tidak jadi mati di tengah hutan hahahaha akhirnya kami makan dulu mie instan dan sirup di warung tersebut, setelah ngobrol-ngobrol dengan pemilik warung menanyakan arah pulang dia menjawab sekitar 3 KM untuk ke jalan aspal dan ada kendaraan umum menuju terminal ledeng bandung, tanpa banyak basa-basi kami semua bertanya , Bu aya ojeg anu tiasa nganteur ka ditu ? jujur ya kaki saya sudah gempor tidak kuat untuk berjalan lagi, akhirnya ojeg pun datang bersama cinta laura… gak ada ojek becek…… hahahahahhha. Perjalan yang cukup mengasykan sekaligus mengerikan, kami sepakat tidak akan kapok melakukan hal ini karena disini kami bisa menikmati ciptaan tuhan yang sangat indah.

DSC_0095

DSC_0100

melati dari Jayagiri
kuterawang keindahan kenangan
hari-hari lalu di mataku
tatapan yang lembut dan penuh kasih
Kuingat di malam itu
kau beri daku senyum kedamaian
hati yang teduh dalam dekapan
dan kubiarkan kau kecup bibirku
Mentari kelak kan tenggelam
gelap kan datang
dingin mencekam
harapanku bintang kan terang
memberi sinar dalam hatiku
Kuingat dimalam itu
kau beri daku senyum kedamaian
mungkinkah akan tinggal kenangan
jawabnya tertiup di angin lalu

4 thoughts on “The First Hiking Jayagiri Experience

  1. Alhamdulillah Rendy tos melalu jalan biasa yg selalu ibu lalui pami hiking, ibu mah kadieu teh nyebatna jalur pendek..jagir-warung -uihna jalur sukawana nu kaluar ti parongpong, jalur panjang na mah jagir-warung-puncak kawah domas-warung dan kembali lewat jagir..jalur pendek paling lami 2-3jam pami nyantei jalur panjang dugi k ashar..hehe..ping 9 saptu kmri ibu terakhir jalur pendek..rutinkeun ren mumpung masih aya hutanna duka 20 th ke pepan bilih musnah..lumayan recharge body and soul wilujeng hiking ria..ulah kapok pedah nyasab..hehe

    • Hehe muhun bu meungpeung araya keneh leuweung na… Insya allah bade dirutinkeun da gening raos kana badan bu ari ngesang mah hehe perkawis nyasab sareng nyareri awak mah kapayun na mah insya allah moal bu hehehe nuhun bu….

  2. sedikit tips kalau tersesat di hutan jayagiri berusaha cari jalan bekas motor trail diusahakan yg masih baru atau belum lama dilintasi jarak 1-2 minggu msh bs terlihat jelas tapak bekas ban berbeda dengan yg sudah lama tidak terlewati…biasanya jalur motor trail mengikuti jalur yang sudah ada yang sering dipakai penduduk mencari rumput…beruntung bisa ketemu pengendara motor trail dan tidak kemalaman di hutan jayagiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s